Langsung ke konten utama

Evaluasi Malam Hari



Hari selasa di Minggu pertama bulan Februari. Sebuah pesan masuk ke grup wasap. Kira kira bunyinya seperti ini.... "Produser yang dapat 86 dari btn nanti menghadap saya... termasuk tim liputannya." Sebuah pesan singkat tapi cukup membuat tenggorokan tercekat, tangan gemetar sambil memegang telpon genggam. Dalam hati ... apalagi yang salah dengan liputan ini.
***
Jadilah sehari kemudian di malam harinya... aku, produser pic yang memegang liputanku, dan bosnya duduk di sebuah ruang rapat di lantai 28. Sudah terasa tegang sejak awal karena jarang sekali bosnya bosku itu memanggilku. Terlebih secara personal seperti ini. Singkat cerita 15 menit awal aku melihat bosku diberondong kata kata oleh bosnya bosku dengan nada yang sangat tinggi. Cukup tinggi hingga aku merasa pantatku meloncat spersekian detik dari kursi. Bukan aku memang yang diberondong amarah. Tapi melihat pemandangan seperti ini membuat aku sedikit menciut. Padahal sesorean tadi aku berlatih menjawab dengan penjelasan yang logis jika nanti ditanya tanya oleh bosnya bosku. Meski sedikit takut, tapi aku cukup tenang mendengarkan setiap kalimat yang ditujukan oleh bosnya bosku ke bosku. Masuk akal, karena hampir yang ia katakan ada benarnya. Terkait liputan apa yang membuatnya murka adalah sebuah rangkaian segmen baru di program berita siang yang terdiri dari tiga episode. Tiga episode ini dibungkus dengan tema besar yang sama namun kemudian diperdalam pada sub maslah yang lebih kecil. Kali itu aku membuat tema liputan mengenai harga hunian di ibu kota yang tinggi. Dan liputan yang kali ini membuat marah bosnya bosku adalah liputan kedua dari tiga, tentang KPR atau Kredit Pemilikan Rumah. Aku sih sedikit bingung kenapa bosnya bosku bilang liputan itu seperti iklan. Karena memang dari awal bukan iklan KPR yang ingin aku angkat, melainkan menjamurnya hunian di kota kota penyangga ibu kota. Tapi entahlah missednya dimana, yang jelas bosnya bosku marah besar pada bosku karena meloloskan liputan yang seperti ini. 

Amarahnya memuncak ketika dia menekankan bahwa tanggungjawab sebagai produser itu tidak main main. Produser menjadi gate keeper berita apa saja yang bisa ditayangkan, dan kali ini bosnya bosku merasa bosku lalai mengemban tanggungjawab ini. Pertama, saluran yang kita gunakan untuk menayangkan berita adalah saluran milik publik. Dimana semua berita yang ditayangkan harus memiliki kepentingan publik bukan kepentingan perorangan atau lembaga seperti sebuah program pembayaran perumahan oleh bank tertentu. Kecuali kalau pihak tertentu sengaja membayar slot untuk blokingan iklan produk tertentu itu lain cerita, karena melalui slot itu pihak tertentu harus membayar sekian ratus juta berikut pajak siar yang akan dikembalikan untuk masyarakat. Dari sini aku bukannya ketakutan tapi justru aku takjub mendengar amarah bosnya bosku. Entahlah menurutku apa yang bosnya bosku sampaikan adalah benar. 

Kedua, bosnya bosku bilang bahwa gaji produser yang besar itu ya karena tanggungjawabnya memang lebih besar. Lalu ia membandingkan denganku, ia bilang ia tak akan menyalahkanku sebagai reporter karena tanggungjawab ini ada pada produser. Kira kira begini kata katanya.."Kamu digaji lebih besar dari reporter karena memang tanggungjawab kamu sebagai produser jauh lebih besar juga. Kamu bisa dituntut oleh publik karena kamu menyalahgunakan kepentingan publik... Aku gak akan menyalahkan tim liputan karena gate keeper tertinggi ada pada kamu. Keputusan menayangkan atau tidak sebuah liputan ada di tangan kamu."

Intinya liputan aku mengenai KPR dianggap "iklan" banget, walaupun sebenarnya hasil jadi liputan memang tidak sesuai hasil pitchingan dan angle yang kita inginkan. Tapi setidaknya bosnya bosku cukup bijak untuk menanyakan bagaiamana pendapat dan argumenku untuk mempertahankan liputan itu. Ya aku bilang bahwa angle yang aku ingintekankan adalah menjamurnya perumahan perumahan di kota penyangga Jakarta, karena harga tanah di Jakarta yang mahal membuat developer atau pengembang membidik tanah di luar ibu kota. Memang secara kebaruan tidak ada yang baru, tapi intinya bukan KPR yang ingin kita tekankan.

Dan yang bisa aku ambil kesimpulan adalah tanggungjawab produser seharusnya tidak hanya meloloskan pitchingan tapi tahu benar bagaimana esensi atau nilai nilai berita yang harus dipertahankan. Jujur aku merasa produserku itu sama gak pahamnya denganku. Hehehe ya gitu deh kalau diterusin jadi gibah nanti... :)

Tapi bosnya bosku bilang dia tidak marah dengan aku sebagai tim liputan, karena balik lagi liputan bisa tayang atau tidak ada di judgement produser. Dan aku juga tidak merasa sakit hati ditegur bosnya bosku, justru aku kagum karena apa yang dia sampaikan masuk akal.

Esoknya bosnya bosku mengirim sebuah pesan lagi di group, isinya aku, VJ (video journalist), dan produser diminta untuk menghadiri semacam pemberian kelas materi tapi dari orang orang yang cukup sering keluar masuk layar TV.

Nah siapakah dia... ternyata pembicaranya adalah BW alias Bambang Widjojanto. Salah satu komisioner atau ketua lembaga anti-rasuah KPK yang sedang ngehits namanya, karena penahanannya oleh Bareskrim yang seperti drama penculikan beberapa hari yang lalu hehe.

Ini bukan pertemuan pertama, dulu beliau pernah menjadi pembicara ketika aku baru seminggu diterima bekerja dan harus mengikuti pelatihan jurnalistik. Wooowww....

Intinya beliau bercerita bagaimana usaha lembaganya yang tak hanya memberantas kasus korupsi yang sudah terjadi tapi juga bagaimana kejahatan korupsi ini terlembaga sedemikian rupa. Entahlah... yang pasti pekerjaan memberantas korupsi itu tidak hanya milik KPK tapi juga perangkat negara lainnya, bahkan masyarakatnya.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

TOILET PEREMPUAN

Agak sedikit aneh ketika masuk toilet perempuan tapi yang bersihin cleaning servicenya seorang cowok. Biasanya toilet umum ini ada di lokasi lokasi yang justru sering banget dikunjungi banyak orang. Misalnya stasiun, nah pernah suatu hari saya sedang merapihkan jilbab saya di toilet perempuan. Karena merasa ruangan adalah khusus perempuan saya bukalah jilbab saya sembari merapihkan rambut rambut. Tiba tiba ada seorang pria masuk, refleks saya bilang dong kok main masuk masuk aja. Trus dia bilang dia mau bersihin toilet. Lah ini kan toilet cewek, harusnya yang jadi petugas kebersihan cewek juga kan? langsung saya bilangin tuh paling gak ngetuk dulu kek, kalau ada cewek yang lagi ganti baju atau mungkin yang lain gimana coba? Trus si petugas cowok bilang dia hanya petugas biasa aja. Iya bener sih, ah begini ni.. Akhirnya setelah saya merapihkan jilbab saya pergi ke customer service di stasiun itu, saya mengisi form kritik dan malahan saya bilang langsung ke mbak mbak cs nya. Iya iya aja ...

Ancaman Media Sosial sebagai Sumber Konflik Nasional

Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa memilki komponen masyarakat yang beragam, baik dari suku, karakteristik, budaya, hingga agama. Keberagaman ini memberikan corak tersendiri, namun juga berpotensi melahirkan benturan atau konflik. Menurut Karl Marx, konflik terjadi akibat adanya perbedaan kelas, serta ketidakseimbangan dalam masyarakat. Indonesia dengan kemajemukannya memiliki potensi konflik yang besar, terlebih jika konflik yang timbul dalam masyarakat melibatkan dua kelompok yang berbeda. Menurut The Fund for Peace (FFP) pada tahun 2017, Indonesia merupakan negara rentan konflik dengan indeks angka 74,9. Sejarah konflik horizontal di Indonesia pun tak sekali muncul untuk menguji kemajemukan, dimulai dari konflik antar suku Dayak dan Madura di Sampit pada tahun 1996, kerusuhan di Sambas, konflik antar agama di Ambon, kerusuhan di Sampang, dan yang paling menyita perhatian adalah konflik antara sebagian masyarakat muslim dengan mantan gubernur DKI Jakarta Basu...